.: r2′s blog :.

Who believes in Allah and the Last Day should talk what is good or keep quiet. Bukhari No.5741

Mengapa Manhaj Salaf ?

Posted by rusdiantoro pada Desember 15, 2007

Mengapa Manhaj Salaf ?

Oleh : Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al Hillali

 

Sesungguhnya tashfiyah (membersihkan) ajaran Islam dari ajaran-ajaran yang bukan bersumber dari Islam, (baik dalam masalah) aqidah, hukum dan akhlak, merupakan sebuah kewajiban. Agar Islam kembali bersinar, jernih, bersih dan murni sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam kemudian men-tarbiyah (mendidik kembali) generasi muslim di atas agama Islam yang bersih ini dengan tarbiyah (pembinaan) keimanan yang dalam pengaruhnya, semua itu merupakan : Manhaj Dakwah Salafiyah yang selamat dan kelompok yang mendapat pertolongan (Allah) dalam (mengadakan) perubahan.

Mengapa Manhaj Salaf ?

Sudah semestinya setiap muslim (yang menghendaki keselamatan, merindukan kehidupan yang mulia, di dunia dan di akhirat), untuk memahami Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam yang shahih dengan pemahaman sebaik-baik manusia yaitu para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Karena sekali-sekali tidak akan tergambar oleh pemikiran, adanya sebuah pemahaman, atau suatu manhaj (metode) yang lebih benar dan lebih lurus dari pemahaman salafus shalih dan manhaj mereka. Karena tidak akan menjadi baik urusan umat ini melainkan dengan cara yang dilakukan oleh umat yang pertama.

Dan dengan membaca dalil-dalil dari Kitab, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas akan didapati kewajiban memahami Kitab dan Sunnah dalam naungan pemahaman Salafus Shalih, karena manhaj Salafus Shalih disepakati kebenarannya dalam setiap masa. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi seseorang setinggi apapun kedudukannya untuk memahami (agama) dengan pemahaman selain pemahaman Salafus Shalih. Barang siapa yang membenci manhaj Salafus Shalih dan cenderung kepada perbuatan bid’ah kaum khalaf, (yang terlingkupi dengan bahaya-bahaya dan tidak aman dari pengaruh bid’ah, serta akibatnya yang tidak dapat diingkari yaitu memecah belah kaum muslimin) maka ia adalah manusia yang membangun bangunannya di tepi jurang neraka.

Kepada pembaca kami jelaskan dengan dalil dan bukti :

1. Sesungguhnya Salafus Shalih (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka) telah dipersaksikan kebaikannya, berdasarkan nash (dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah) maupun istinbath (pengambilan hukum).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, dan mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” {At-Taubah : 100}

Pengertian ayat ini : Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang mengikuti Khairul Bariyyah (sebaik-baik manusia). Maka dari sini diketahui bahwa apabila khairul bariyyah mengatakan suatu perkataan kemudian diikuti oleh seseorang, maka orang yang mengikuti itu berhak mendapatkan pujian dan keridhaan. Jika mengikuti “khairul bariyyah” tidak mendapatkan suatu keistimewaan, tentu orang yang mengikuti “khairul bariyyah” tidak berhak mendapatkan pujian dan keridhaan. Dan khairul bariyyah adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah khairul bariyyah (sebaik-baik manusia).” {Al Bayyinah : 7}

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” {Ali Imran : 110}

Pengertian ayat ini : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan keutamaan para sahabat atas seluruh umat. Ketetapan itu mengharuskan keistiqomahan mereka dalam segala hal, karena mereka tidak akan menyimpang dari jalan yang lurus. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan persaksian, bahwa mereka menyuruh segala hal yang ma’ruf dan melarang dari segala yang mungkar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Persaksian ini mengharuskan bahwa pemahaman mereka menjadi hujjah bagi orang-orang yang sesudah mereka, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewariskan bumi dan apa saja yang ada diatasnya. Kalau tidak demikian halnya, berarti perbuatan mereka dalam menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran tidak benar, maka renungkanlah… !

Jika ada perkataan : Ayat ini umum tidak khusus pada generasi sahabat saja.

Maka aku (Syaikh Salim Al Hilali) berkata :

Ayat ini pertama kali ditujukan kepada para sahabat, dan tidak termasuk dalam ayat ini orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, kecuali jika (ayat ini) diqiyaskan atau diterangkan dengan dalil lain, sebagaimana dalil yang pertama.

Dan juga atas dasar keumuman ayat tersebut (dan inilah yang benar). Sesungguhnya sahabat adalah mereka yang dimaksudkan dalam ayat itu, karena merekalah manusia yang pertama kali menerima ilmu dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam tanpa perantara. Merekalah manusia yang “menyentuh” wahyu.

Merekalah manusia yang lebih utama (untuk ditujukan ayat itu) daripada yang selain mereka. Dimana sifat-sifat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam ayat itu tidak akan tersifatkan secara sempurna kecuali jika diberikan kepada para sahabat. Maka kesesuaian sifat itu bukti bahwa mereka lebih berhak dari selain mereka dalam mendapatkan pujian.

3. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian masa berikutnya, kemudian masa berikutnya. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya (mendahului) persaksiannya.” {Hadist mutawatir sebagaimana dicantumkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al Isabah” 1/12, dan disepakati oleh Suyuthi, Al Manawi, Al Kinani}.

Apakah kebaikan yang ditetapkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam kepada para sahabat itu dikarenakan warna kulit mereka ? Bentuk tubuh mereka ? Harta mereka ? Tempat tinggal mereka ? Atau… ?

Tidak diragukan lagi bagi (orang berakal) yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih, bahwa semua itu bukanlah yang dimaksudkan dalam hadist diatas, karena Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam (dalam hadist yang lain) :

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh dan harta kalian, tetapi Allah melihat pada hati dan amal-amal kalian.” {Hadist Riwayat Muslim}

Karena kebaikan dalam Islam ukurannya adalah ketaqwaan hati dan amal shalih, hal ini sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertaqwa diantara kamu.” {Al-Hujarat : 13}

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melihat hati para sahabat (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka) maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendapati hati mereka adalah sebaik-baik hati manusia sesudah hati Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata :

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat hati para hamba, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dapati hati Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam adalah sebaik-baik hati hamba, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya untuk diri-Nya, dan mengutusnya (untuk membawa) risalah-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat hati para hamba sesudah hati Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dapati hati para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan mereka pembantu-pembantu Nabi-Nya, (dimana) mereka berperang di atas agama-Nya.” {Atsar mauquf, isnadnya hasan, dikeluarkan oleh Imam Ahmad, I/374 dan lainnya}

Para sahabat diberikan pemahaman dan ilmu yang tidak diberikan kepada manusia sesudah mereka, dari Abu Juhaifah ia berkata :

“Saya berkata kepada Ali : ‘apakah ada pada kalian kitab ?’. Ali berkata : ‘tidak, (yang ada pada kami) hanyalah Al-Qur’an dan pemahaman yang diberikan kepada seorang muslim, atau keterangan-keterangan yang ada pada lembaran-lembaran ini…’.” {Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, I/204, Fathul Bari}

Dengan demikian, kita mendapat keterangan bahwa kebaikan yang terpuji dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam diatas (yaitu hadist : “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku…), adalah kebaikan pemahaman dan manhaj.

Dengan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam ini (dapat dimengerti) bahwa pemahaman Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum terhadap kitab dan sunnah adalah hujjah bagi orang-orang sesudah mereka, hingga akhir umat ini.

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu.” {Al-Baqarah : 143}

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan para sahabat umat pilihan dan adil.

Mereka umat yang paling utama, paling adil dalam perkataan, perbuatan dan kehendak-kehendak mereka. Oleh karena itu mereka berhak menjadi saksi atas umat manusia. Dengan sebab ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka, mengangkat penyebutan mereka, memuji dan menerima mereka dengan penerimaan yang baik.

Seorang saksi yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seorang yang bersaksi berdasarkan ilmu dan kejujuran, kemudian ia mengkhabarkan yang benar bersandarkan kepada ilmunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Kecuali orang yang mengakui yang hak dan mereka yang mengetahuinya.” {Az Zukhruf : 86}

Maka jika persaksian mereka telah diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak dapat diragukan lagi bahwa pemahaman mereka dalam agama adalah hujjah bagi manusia sesudah mereka, dan kalau tidak demikian halnya (tentulah) persaksian mereka tidak dapat ditegakkan, sedangkan ayat Al-Qur’an telah menetapkan dalil itu secara mutlak.

Dan umat ini tidak menganggap suatu generasi itu adil secara mutlak kecuali generasi para sahabat, karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan Salaf dan Ahlul Hadist telah menganggap adil generasi sahabat secara mutlak dan umum. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil dari mereka riwayat dan ilmu tanpa pengecualian. Berbeda dengan generasi selain para sahabat, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menganggap adil (seseorang) kecuali yang telah dibenarkan kepemimpinannya dan ditetapkan keadilannya. Dan dua sifat tersebut tidak diberikan kepada seseorang kecuali jika ia mengikuti jejak para Sahabat Radhiyallahu Anhum (semoga Allah meridhai mereka).

5. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” {Luqman : 15}

Setiap sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka diberi petunjuk kepada perkataan baik dan amal shalih. Dalilnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Mereka itu yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” {Az Zumar : 18}

Maka wajib mengikuti Sahabat-sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dalam memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam). Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam (seseorang yang mengikuti suatu jalan yang bukan jalan para sahabat) dengan neraka jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Sebagaimana tersebut dalam point 6 berikut).

6. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” {An Nisa : 115}

Pengertian ayat ini adalah : Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang yang mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman, maka hal ini menunjukkan bahwa mengikuti jalan orang-orang yang beriman (para sahabat) dalam memahami syariat ini adalah wajib, dan menyelisihinya adalah kesesatan.

7. Dari Abu Musa al Asy’ari rahimahullah :

Kita shalat maghrib bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, kemudian kami berkata : “Sebaiknya kita duduk hingga shalat isya’ bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, maka kami duduk, lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam keluar kepada kami, kemudian beliau bersabda : ‘Kalian masih berada disini ?’. Kami berkata : ‘Wahai Rasulullah, kami shalat bersamamu, kemudian kami berkata : ‘Sebaiknya kita duduk hingga shalat isya’ bersama Engkau’. Beliau bersabda : ‘Kalian baik dan benar’” Berkata Abu Musa Al Asy’ari rahimahullah : kemudian Beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Salam mengangkat kepalanya ke langit (dan beliau sering menatap langit) seraya berkata :

“Bintang-bintang adalah penjaga langit, maka apabila bintang-bintang lenyap datanglah kiamat, dan aku adalah penjaga bagi sahabat-sahabatku, apabila aku telah tiada datanglah kepada sahabat-sahabatku apa yang diancamkan pada mereka dan sahabat-sahabatku adalah penjaga bagi umatku, maka apabila sahabat-sahabatku lenyap, datanglah kepada umatku apa yang diancamkan kepada mereka.” {Hadist Riwayat Muslim}

Sungguh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam menjadikan kedudukan sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dalam umat ini sebagaimana kedudukan beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Salam pada sahabatnya, dan sebagaimana kedudukan bintang-bintang (sebagai penjaga) di langit.

Dan suatu yang sudah diketahui bahwa penyerupaan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dalam hadist diatas memberikan (pemahaman) tentang wajibnya mengikuti pemahaman para sahabat dalam agama, sebagaimana wajibnya umat kembali kepada Nabinya Shalallahu ‘Alaihi wa Salam. Yang demikian itu karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam adalah yang menerangkan Al-Qur’an, dan sahabat-sahabat beliau menukil keterangan beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Salam untuk umat ini.

Demikian juga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam tidaklah berbicara dari hawa nafsunya dan hanyalah yang beliau ucapkan bimbingan dan petunjuk (yang bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan sahabat-sahabat beliau adalah (manusia-manusia) yang adil, tidaklah berbicara kecuali dengan perkataan yang benar dan tidaklah beramal kecuali dengan yang haq.

Demikian juga bintang-bintang (di langit). Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai alat pelempar syaithan takkala mencuri pembicaraan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. Dan telah memeliharanya dari syaithan-syaithan yang durhaka. Syaithan-syaithan itu tidak dapat memperdengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat, dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan) maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.” {Ash Shaffaat : 6 – 10}

Dan firman-Nya :

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat pelempar syaithan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa yang menyala-nyala.” {Al Mulk : 5}

Demikian juga para sahabat, mereka adalah penghias ummat ini, dengan pemahaman, ilmu dan amal mereka. Para sahabat adalah pengintai (alat pelempar) bagi penakwilan orang-orang bodoh, dakwaan ahlul batil dan penyelewengan orang-orang yang menyimpang.

Demikian pula bintang-bintang adalah penunjuk jalan bagi penduduk bumi dalam kegelapan di darat dan di lautan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan) dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” {An Nahl : 16}

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut.” {Al An’am : 97}

Demikian juga para sahabat, mereka diikuti agar selamat dari kegelapan syahwat dan syubhat. Barangsiapa berpaling dari pemahaman mereka maka ia tersesat jauh dalam kegelapan yang berlapis-lapis. Jika ia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir tidak melihatnya.

Dan dengan pemahaman sahabat, kita menjaga Al-Qur’an dan Sunnah dari bid’ah-bid’ah syaithan-syaithan manusia dan jin, yang mereka menginginkan fitnah dan takwil terhadap Al-Qur’an untuk merusak makna-makna ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki, dan merusak makna-makna hadist yang sesuai dengan apa yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam kehendaki. Oleh karena itu, pemahaman sahabat adalah pemelihara dari kejahatan dan penyebab-penyebabnya. Dan kalau seandainya pemahaman mereka bukan hujjah, tentulah pemahaman orang-orang sesudah mereka sebagai hujjah dan pemelihara bagi sahabat, dan hal ini adalah mustahil.

Dan kalau pengkhususan dan pembatasan ini ditolak (yaitu wajibnya memahami Kitab dan Sunnah yang shahih dengan pemahaman sahabat) tentulah seorang muslim akan menyimpang dari jalan yang lurus, dan menjadi “binatang buruan” bagi firqoh-firqoh dan golongan-golongan yang menyimpang dari jalan yang lurus, karena Al-Qur’an dan As Sunnah menentang pemahaman : Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyah, Syi’ah, Sufi, Khawarij, Bathiniyyah dan lainnya. Maka diharuskan adanya pembeda (pengkhususan dan pembatasan).

—o0o—

Jika ada perkataan : Tidak diragukan lagi bahwa pemahaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dan sahabat Radhiyallahu Anhum adalah manhaj (metode) yang tidak terdapat kebathilan. Akan tetapi apa dalil bahwa manhaj salaf adalah pemahaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dan Sahabat-sahabatnya Radhiyallahu Anhum ?

Aku (Syaikh Salim Al Hilali) berkata :

Jawabannya dari dua sisi :

Sesungguhnya pemahaman yang disebut di atas (Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyah, Syi’ah, Sufi, Khawarij, Bathiniyyah dan lainnya) adanya pada masa akhir setelah masa kenabian dan Khulafaur Rasyidin, dan tidaklah yang paling awal disandarkan pada yang kemudian, bahkan sebaliknya (yang kemudian disandarkan pada yang awal). Maka jelaslah bahwa kelompok yang tidak menempuh dan tidak mengikuti jalan-jalan (Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyah, Syi’ah, Sufi, Khawarij, Bathiniyyah dan lainnya) adalah kelompok yang tetap di atas dasar/pokok.

Kita tidak dapati dalam kelompok-kelompok pada umat ini yang sesuai dengan para sahabat kecuali Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari pengikut Salafush Shalih dan Ahlul Hadist, dan bukan firqoh-firqoh yang lain.

Adapun Mu’tazilah, maka bagaimana mereka mencocoki para sahabat, padahal pemimpin-pemimpin mereka telah “menusuk” sahabat-sahabat yang mulia, menjatuhkan dan tidak mengakui keadilan mereka, serta menggolongkan para sahabat dalam kesesatan, seperti Washil bin Atha’ (tokoh mu’tazilah) berkata : “Kalau Ali bin Abi Thalib, Thalhah dan Zubeir bin Awwam di atas seikat sayur, tidaklah saya berhukum dengan persaksian mereka.” (lihat Al-Farqu bainal Firaq, hal. 119 – 120).

Adapun Syi’ah, mereka menyangka bahwa para sahabat telah murtad sesudah nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, kecuali 3 orang saja. Dan tidaklah terdapat pada sahabat yang kafir itu uswah (contoh), qudwah (panutan) dan karomah. (lihat Al Kafi oleh Al Kalini hal. 115).

Adapun Khawarij, mereka telah keluar dari agama dan menyendiri dari jama’ah kaum muslimin. Dari hal-hal yang berbahaya yang terdapat pada madzhab mereka, yaitu mereka mengkafirkan Ali dan dua putranya, Ibnu Abbas, Utsman, Thalhah, ‘Aisyah dan Muawwiyah. Dan tidaklah diatas perilaku para sahabat seseorang yang menjadikan para sahabat sebagai sasaran pengkafiran mereka.

Adapun Sufiyah, mereka menghinakan warisan para Nabi, dan menjatuhkan para sahabat yang telah memindahkan ilmu Al-Qur’an dan Sunnah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam kepada umat dan mensifati mereka dengan orang-orang mati. Berkata pemuka mereka : “Kalian (yang dimaksud adalah kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah, -pent) mengambil ilmu melalui orang-orang yang sudah meninggal dan kita mengambil ilmu kami (dengan cara) : telah bercerita hatiku dari Rabbku.”

Adapun Murji’ah, mereka menyangka bahwa iman orang-orang yang munafiq seperti imannya orang-orang yang terdahulu.

Dan secara global, maka kelompok-kelompok ini ingin membatalkan persaksian kita atas Al-Qur’an dan As Sunnah dan mencela para sahabat. Maka kelompok-kelompok itulah yang lebih pantas mendapat celaan. Oleh karena itu, jelaslah bahwa pemahaman Salaf adalah Manhaj Firqotun Najiyah (kelompok yang selamat) dan Thoifah Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) dalam memahami dan mengambil (ilmu) serta dalil.

Diterjemahkan dari majalah Al Ashalah
Edisi 1 halaman 17 bithasharruf

Sumber : Majalah Adz-Dzakhiirah Edisi 02 Dzulqo’dah 1423 / Januari 2003

 

Link diatas berlaku selama 90 hari sesuai dengan ketentuan upload di http://www.gilaupload.com/
Selesai Upload 17 Dec 2007 08:18:21
Upload limit : 2 Gigabyte per file, and your files will be deleted after 90 days

Satu Tanggapan to “Mengapa Manhaj Salaf ?”

  1. Diqra al-Garuti berkata

    assalamu’alaikum
    tulisan yg bagus akh..cocok di baca oleh orang2 yg awam agar mereka kenal manhaj salaf..keep istiqomah yaa akhi

    salam silaturahmi dr salafy garut

    Wa’alaykumsalam wa Rahmatullahi wa Barakaatuh. Jazakallah khairan katsiran akhi. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan hati kita dalam agama-Nya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.